silvia novita
Friday, April 6, 2018
Wednesday, March 28, 2018
Thursday, March 22, 2018
Sunday, March 18, 2018
Makeup natural (Tanpa bulu mata dan eyeliner) || silvia novita
Hallo
semuanya....
semuanya....
ini
adalah video pertama aku !
adalah video pertama aku !
kali
ini aku buat makeup natural untuk kamu, tampa eyeliner dan bulu mata palsu ...
ini aku buat makeup natural untuk kamu, tampa eyeliner dan bulu mata palsu ...
jadi...
selamat menonton yeee...
selamat menonton yeee...
Produk
yang aku gunain :
yang aku gunain :
1.
wardah sun screen
wardah sun screen
2.Wardah DD Cream shade natural
3.
Wardah everyday luminous face powder shade Light beige
Wardah everyday luminous face powder shade Light beige
4.
Maybellin fashion brow cream pensil warna hitam
Maybellin fashion brow cream pensil warna hitam
5.
Wardah eyeshadow G
Wardah eyeshadow G
6.
Wardah blush on A
Wardah blush on A
7.
Lip color just miss no.39
Lip color just miss no.39
8.
Purbasari lipstick matte jade ( no. 89 )
Purbasari lipstick matte jade ( no. 89 )
Untuk
saran-saran dan pertanyaan bisa comment dibawah :)
saran-saran dan pertanyaan bisa comment dibawah :)
maaf
jika dalam video ini masih banyak kekurangan dan sala dalam mengucapkannya.
jika dalam video ini masih banyak kekurangan dan sala dalam mengucapkannya.
How
to contact me :
to contact me :
1. Ig : silvia_novita22
2. novitasilvia70@gmail.com
Wednesday, February 15, 2017
Cara Menghadapi Anak Hiperaktif
Pada sekitar abad kedua puluhan, sejumlah orang tertarik mempelajari rahasia di balik tumbuh kembangnya manusia. Berbagai upaya dilakukan termasuk mengembangkan metode pengumpulan data dalam rangka mendapatkan gambaran yang utuh tentang perkembangan manusia. Salah satu dari perkembangan manusia tersebut adalah perkembangan anak dari sejak lahir hingga dewasa.
Pada abad petengahan, muncul anggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk mini sehingga perlakuan yang diberikan oleh lingkungan sama dengan perlakuan terhadap orang dewasa. Pada tahun-tahun setelah itu, berkembang ide bahwa masa anak merupakan periode perkembangan yang khusus karena memiliki kebutuhan psikologis, pendidikan, serta kondisi fisik yang khas dan berbeda dengan orang dewasa.
Beberapa pendapat mengenai masa anak seperti John Locke (1980: 3) yang menyatakan bahwa ketika bayi dilahirkan, kondisinya tabularasa atau eperti kertas kosong yang bersih. Pikiran anak merupakan hasil dari pengalaman dan proses belajar. Pengalaman dari proses belajar yang diperoleh melalui indera membentuk manusia menjadi individu yang unik. Pendapat lain tentang masa anak dikemukakan oleh Rousseau (2008: 4) yang menyatakan bahwa bayi sudah dibekali oleh rasa keadilan dan moralitas, serta perasaan dan pikiran sejak lahir. Artinya ketika bayi dilahirkan, dia sudah memiliki kapasitas dan modal yang akan terus berkembang secara alami tahap demi tahap. Tugas orang tua adalah memberikan kesempatan agar bakat atau bawaan tersebut dapat berkembang dan memandu pertumbuhan anak.
Anak adalah anugerah Yang Maha Kuasa Anak yang dititipkan kepada setiap orang tua atau ayah dan ibu. Anak yang baru lahir merupakan makhluk yang suci dan belum tahu apa-apa. Jika kelak anak itu tumbuh menjadi manusia yang berperilaku baik atau jahat, maka sepenuhnya bukanlah kesalahan dari anak itu tetapi karena adanya beberapa faktor penyebab seperti keluarga, lingkungan, dan sifat pembawaan. Orang tua sebagai orang yang paling dekat dengan si anak merupakan orang yang paling banyak memberi pengaruh kepada anaknya. Melalui orang tualah (ibu) anak mendapat pendidikan pertama. Ibu yang berhasil mendidik anaknya dengan baik tentu akan menjadikan anaknya tumbuh menjadi anak yang baik pula. Sebaliknya, orang tua atau ibu yang gagal mendidik anaknya akan menjadikan anak tumbuh menjadi orang yang terkadang meresahkan masyarakat.
Pada usia balita, anak cenderung sudah memperlihatkan hasil didikan orang tuanya. Pada sebuah Taman Kanak-Kanak misalnya, sering terlihat anak yang manis, sabar, cerdas dan pintar, serta suka berteman dan menolong. Namun, terkadang terdapat juga anak yang suka bergerak, tidak bisa tinggal diam alias hiperaktif. Anak yang demikian tentu menjadi sebuah masalah bagi seorang guru seperti Taman Kanak-Kanak. Bagaimana mengatasi anak hiperaktif seperti itu? Untuk menjawab pertanyaan atau permasalahan tersebut maka dalam makalah ini diangkat judul ”Cara Mengatasi Anak Hiperaktif”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang dikemukakan di atas tentang anak yang hiperaktif, dirumuskan masalah penulisan ini sebagai berikut:
1. Apa yang menyebabkan anak menjadi hiperaktif?
2. Bagaimanakah mengatasi anak yang hiperaktif?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan uraian rumusan masalah di atas dapat dikemukakan tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui penyebab anak menjadi hiperaktif?
2. Untuk mengetahui cara mengatasi anak hiperaktif?
D. Manfat Penulisan
Hasil penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada kemajuan dunia pendidikan khususnya dalam pembinaan anak prasekolah yang mengalami masalah seperti anak yang hiperaktif. Adapun manfaat yang dimaksud dapat dirinci sebagai berikut:
1. Memberikan gambaran tentang penyebab seorang anak menjadi hiperaktif.
2. Sebagai masukan kepada para tenaga pendidik atau para guru tentang cara menangani anak yang hiperaktif.
3. Memperluas wawasan keilmuan tentang perkembangan anak dan cara membimbing anak menjadi manusia yang cerdas dan mandiri.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Anak yang Hiperaktif
Hiperaktif adalah sifat yang amat aktif (KBBI, 1995: 353). Sifat aktif pada diri anak berarti setiap tindakan atau perbuatan yang dilakukan seorang anak yang didorong oleh adanya minat atau keinginan dari dalam diri anak untuk berbuat atau bertindak sesuai keinginannya.
Sesuai dengan perkembangannya, anak memiliki banyak idealisme, angan-angan, atau keinginan yang hendak diwujudkannya. Namun, sesungguhnya anak-anak itu belum memiliki banyak kemampuan untuk melakukannya. Keterbatasan pemikiran pada anak-anak salah satu penyebab kurangnya kemampuan dalam mewujudkan keinginannya itu. Akibat dari kurangnya kemampuan berpikir, anak-anak menjadi bergerak atau bertindak sesuai nalurinya. Anak-anak kadang menjadi liar karena adanya dorongan nalurinya untuk melihat, meraba, dan merasakan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya.
Pada usia 2 – 5 tahun sifat hiperaktif anak terlihat dari perilaku anak yang tidak bisa tinggal diam. Mereka akan terus bergerak dan bergerak melakukan aktivitas yang tidak kunjung selesai. Anak yang hiperaktif akan membuat orang tua atau pengasuhnya menjadi capek karena harus mengikuti kemana anak pergi dan terus mengawasi aktivitas anak. Pengawasan harus melekat pada anak hiperaktif mengingat mereka memiliki pemikiran yang masih terbatas. Dengan demikian, tentu mereka tidak bisa membedakan mana yang berbahaya dan mana yang tidak berbahaya.Mereka baru mengetahui sesuatu itu berbahaya atau tidak setelah mencobanya.
Anak yang hiperaktif harus mendapat pengawasan ekstraketat. Anak yang hiperaktif rawan mengalami hal-hal yang berbahaya jika tidak selalu diawasi atau dipantau setiap kegiatan yang dilakukannya. Semua benda yang ditemui biaanya akan diraba, diangkat, atau digoyang-goyangkan untuk mengetahui jenis benda tersebut. Anak yang hiperaktif memiliki sifat keinginantahuan yang tinggi. Oleh karena itu, anak yang hiperaktif sudah harus diberi pembinaan sejak masih balita atau masa prasekolah.
Pada masa usia prasekolah, anak hiperaktif biasanya tambah mulai menjadi-jadi. Hal ini karena anak sudah mulai lepas dari lingkungan rumah, pelukan dan pengawasan ibu, atau pengawasan pengasuh mereka. Lingkungan pergaulan menjadi lebih luas dan mulai mendapatkan banyak teman. Selanjutnya, tanggung jawab pengawasan pada anak, sudah mulai berpindah kepada guru di sekolah. Oleh karena itu, seorang guru yang mendapatkan anak hiperaktif harus memiliki teknik pengawasan dan pembinaan yang tepat. Ia harus mengetahui cara mengatasi anak yang hiperaktif agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung dengan baik dan lancar.
Anak yang hiperaktif jika tidak dibina dengan baik akan menjadi anak yang menghambat pelaksanaan pembelajaran di kelas. Sifat tidak bisa tinggal diam pada anak tersebut akan menjadikan teman-teman lainnya ikut terpancing dan melakukan aktivtas yang sama dengan anak yang hiperaktif tersebut. Hal ini tentu akan menjadikan kelas tambah ramai dan tidak kondusif untuk kegiatan pembelajaran.
B. Mengapa Anak Hiperaktif
Manusia diciptakan secara unik, berbeda satu sama lain, dan tidak satu pun yang memiliki ciri-ciri persis sama meskipun mereka itu kembar identik. Setiap individu pasti memiliki karakteristik yang berbeda dengan individu lainnya. Perbedaan individual ini merupakan kodrat manusia yang bersifat alami. Berbagai aspek dalam diri individu berkembang melalui cara yang bervariasi sehingga menghailkan perubahan karakteristik individual yang bervariasi pula.
Perbedaan perkembangan berbagai karakteristik individual tampak dalam aspek-aspek yang terdapat pada setiap diri individu. Perbedaan-perbedaan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Perbedaan aspek fisik
Perbedaan aspek fisik tampak pada gejala-gejala sebagai berikut:
a. Ada anak yang lekas lelah dalam pekerjaan fisik, tetapi ada juga yang tahan lama.
b. Ada yang dapat bergerak lincah, tetapi ada juga yang lamban.
c. Ada anak yang tidak bisa tinggal diam, ada juga anak yang malas bergerak.
2. Perbedaan aspek emosi
Perbedaan perkembangan karakteistik secara individual pada aspek emosi tampak dengan gejala-gejala sebagai berikut:
a. Ada anak yang mudah sekali marah, tetapi ada pula yang penyabar.
b. Ada anak yang perasa, tetapi ada pula yang tidak mudah peduli.
c. Ada anak yang pemalu atau penakut, tetapi ada pula yang pemberani.
d. Ada anak yang tidak suka bergerak aktif, tetapi ada pula yang hiperaktif.
3. Perbedaan aspek nilai, moral, dan sikap
Perbedaan perkembangan karakteristik secara individual pada aspek nilai, moral, dan sikap tampak dengan gejala-gejala sebagai berikut:
a. Ada anak yang bersikap taat pada aturan, tetapi ada pula yang begitu mudah dan seenaknya melanggar aturan.
b. Ada anak yang perilakunya bermoral tinggi, tetapi ada yang perilakunya tidak bermoral dan tidak senonoh.
c. Ada anak yang penuh sopan santun, tetapi ada pula yang perilaku maupun tutur bahasanya seenaknya sendiri.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa setiap aspek menunjukkan karakteristik individual yang berbeda sehingga individu sebagai kesatuan jasmani dan rohani mewujudkan dirinya secara utuh dalam keunikannya. Keunikan dan perbedaan individual itu disebabkan oleh perbedaan faktor pembawaan dan lingkungan yang dimiliki oleh masing-masing individu atau anak. Perbedaan individu tersebut membawa implikasi imperatif terhadap setiap layanan pendidikan untuk memperhatikan karakteristik anak didik yang unik dan bervariasi. Menyamaratakan layanan pendidikan atau bimbingan terhadap individu atau anak yang memiliki karakteristik berbeda satu sama lain berarti mengingkari hakikat dan kodrat kemanusiaannya sehingga akan memperoleh hasil yang kurang memuaskan. Misalnya anak yang mengalami sifat yang suka bergerak, tidak mau tinggal diam, atau disebut anak yang hiperaktif. Anak yang hiperaktif tentu harus mendapatkan layanan yang berbeda dengan anak yang pendiam atau tidak suka banyak gerak.
Tidak semua anak mengalami atau memiliki sifat hiperaktif. Misalnya pada sebuah Taman Kanak-Kanak, dari beberapa anak pada Taman Kanak-Kanak tersebut, kemungkinan hanya ada satu dua orang yang mempunyai sifat hiperaktif. Hal ini berarti bahwa sifat hiperaktif itu bukanlah merupakan sifat yang bersifat umum bagi setiap anak.
Anak adalah makhluk suci dan bersih ketika ia baru lahir. Anak dapat diibaratkan kertas kosong yang putih bersih. Kertas yang putih bersih tersebut akan menjadi beragam warnanya setelah ditulisi oleh berbagai pihak mulai dari orang tua, kakak, keluarga, guru, teman, dan orang-orang di lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, anak balita yang hiperaktif tentu memerlukan penanganan yang lebih serius agar menjadi anak yang baik dan berguna di kemudian hari.
Setiap anak memiliki naluri untuk mencoba sesuatu yang ada di sekelilingnya. Namun, naluri mencoba tidak sama pada setiap anak. Anak yang hiperaktif memiliki naluri mencoba yang begitu tinggi sehingga ia selalu bergerak dan bergerak untuk sekedar melihat, menyentuh, bahkan merasai setiap benda yang ada di sekitarnya. Pada perkembangannya, anak yang hiperaktif cenderung memilki kreativitas yang tinggi. Ia akan mulai melihat dan mencoba merasai segala benda yang dilihatnya sehingga timbul kreativitasnya untuk mengubah atau merenovasi benda yang didapatinya. Hal ini terlihat misalnya pada anak yang memilki mainan mobil-mobilan, meskipun mainan tersebut baru dibelikan oleh ayah atau ibunya, namun selalu diotak-atik bahkan dibongkar untuk melihat bagaimana membuatnya atau apa isinya. Kreativitas seperti ini sering terjadi pada anak yang tergolong hiperaktif.
Menurut Piers (dalam Adams: 1976) bahwa karakteristik kreativitas adalah sebagai berikut:
1. Memiliki dorongan (drive) yang tinggi.
2. Memiliki keterlibatan yang tinggi.
3. Memiliki rasa ingin tahu yang besar.
4. Memiliki ketekunan yang tinggi.
5. Cenderung tidak puas terhadap kemapanan.
6. Memiliki kemandirian yang tinggi.
7. Bebas dalam mengambil keputusan.
8. Penuh percaya diri.
9. Cenderung tertarik kepada hal-hal yang kompleks.
10. Bersifat sensitif.
Dengan memperhatikan karakterisitk kreativitas di atas, dapat dipahami bagaimana pentingnya mengatasi dan mengarahkan anak yang hiperaktif agar dapat tumbuh menjadi anak yang kreatif, cerdas, terampil, dan bertangghung jawab. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional seperti yang tercantum dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
C. Mengatasi Anak Hiperaktif
Pada dasarnya, anak yang hiperaktif memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (high curiosity). Karena didorong oleh rasa ingin tahu yang tinggi anak menjadi cenderung ingin bergerak dan bertindak untuk mencoba segala sesuatu yang dilihatnya. Selain itu, anak yang hiperaktif juga memiliki tenaga ekstra yang super kuat sehingga menjadikannya selalu ingin bergerak dan beraktivitas.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka yang teramat penting dalam mengatasi anak hiperaktif adalah memberikan bimbingan agar rasa ingin tahunya yang tinggi serta kelebihan tenaga yang terdapat pada diri anak, dapat terarah pada kegiatan-kegiatan yang positif, kreatif, dan produktif.
Untuk mengatasi anak hiperaktif, ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Bimbingan terarah
Anak hipraktif memiliki sifat yang tidak bisa tinggal diam. Ia selalu bergerak dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Melihat aktivitas anak seperti itu, maka perlu diberikan bimbingan yang terarah. Maksud dari bimbingan terarah yaitu memberikan bimbingan kepada anak secara terfokus dan mengarah kepada satu kegiatan. Misalnya anak selalu memanjat meja atau pagar pembatas kelas, maka ibu guru dapat mengarahkan anak untuk memanjat pada tiang-tiang besi yang sudah dirangkai menjadi bundaran yang khusus disediakan bagi anak yang senang dengan aktivitas menantang. Kehadiran guru di dekat anak akan menjadikan ia dapat menggunakan tenaganya dengan baik dan terhindar dari risiko yang membahayakan.
2. Memberikan kesibukan
Memberikan kesibukan merupakan salah satu cara yang baik dan efektif dalam mengatasi anak hiperaktif. Kesibukan yang diberikan dapat bermacam-macam sesuai dengan karakteristik anak. Jika si anak senangnya mencoret-coret tembok atau dinding sekolah, maka kepada si anak hendaknya diberi kesibukan untuk menggambar, melukis atau mewarnai gambar bentuk yang disediakan.
Dalam memberi kesibukan seperti itu, guru harus sering-sering berada di dekat anak atau mengawasi pekerjaan anak. Melalui perhatian guru kepada si anak, maka anak akan merasa memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas yang diberikan. Dengan adanya kesibukan pada diri anak untuk menyelesaikan tugasnya, maka naluri keaktifan si anak akan sedikit berkurang karena tertutupi oleh perasaan ingin menyelesaikan tugasnya secepatnya.
3. Menyediakan permainan yang menantang
Anak-anak yang hiperaktif cenderung senang pada sesuatu yang menantang. Oleh karena itu, anak yang hiperaktif sebaiknya disediakan permainan yang menantang. Permaianan yang menantang misalnya lomba lari kelereng, lomba memasukkan bola ke dalam keranjang, lomba mengambil bendera di puncak tangga, dan permainan lainnya yang membutuhkan kekuatan fisik dan keterampilan tinggi.
Permainan yang menantang akan menjadikan tenaga anak tersalurkan sehingga tenaga yang berlebih pada diri anak tersebut akan tersalurkan ke hal-hal yang positif. Hal ini akan menjadikan anak hiperaktif memiliki fokus kegiatan yang terarah dan terkoordinir.
4. Melibatkan dalam kegiatan kelompok
Kegiatan kelompok merupakan kegatan kerja sama antaranak dalam satu kelas. Dengan melibatkan anak hiperaktif dalam kegiatan kelompok, maka ia akan memiliki kebiasaan atau tanggung jawab untuk bekrja sama dengan temannya. Dalam kegiatan kelompok itu, hendaknya diberikan tugas yang menarik dan menantang bagi anak sehingga mereka akan memiliki semangat untuk menyelesaikannya. Selain itu, kepada setiap pemenang atau kelompok terbaik diberikan reward atau penghargaan agar anak dapat bersungguh-sungguh bekerja dalam kelompoknya masing-masing.
Pemberian tugas kelompok sebaiknya dilakukan dengan melihat tingkat kesukaran pekerjaan yang harus diselesaikan oleh anak. Di samping itu, setiap kelompok hendaknya memiliki anggota yang heterogen baik dari jenis kelamin, sifat, kecerdasan, maupun agama. Anak yang hiperaktif sebaiknya dilibatkan sebagai pemimpin kelompok supaya dapat lebih aktif mengkoordinir anggota kelompoknya.
5. Memberi tugas dan tanggung jawab
Anak yang hiperaktif suka beraktivitas. Oleh karena itu, sebaiknya anak hiperaktif diberi kesempatan untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab di kelasnya. Pemberian tugas seperti ketua kelas, pemandu pada kegiatan senam, pemimpin barisan, dan tugas-tugas lainnya akan menyalurkan tenaga dan pikiran anak sehingga ia memiliki fokus pemikiran yang akan dilaksanakan. Selain itu, anak juga dilatih memiliki rasa tanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya. Pemberian tugas dan tanggung jawab akan menjadikan anak terfokus pada satu kegiatan yang positif.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian terdahulu dapat disimpulkan bahwa anak hiperaktif adalah anak yang memiliki sifat untuk selalu inging beraktivitas. Anak tidak bisa tinggal diam dan selalu aktif bergerak.
Anak menjadi hiperaktif disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor bawaan dan faktor lingkungan. Pada perkembangannya, anak yang hiperaktif cenderung memilki kreativitas yang tinggi. Ia akan mulai melihat dan mencoba merasai segala benda yang dilihatnya sehingga timbul kreativitasnya untuk mengubah atau merenovasi benda yang didapatinya. Untuk mengatasi anak hiperaktif, dapat dilakukan hal-hal berikut ini:
1. Memberikan bimbingan secara terarah.
2. Memberikan kesibukan.
3. Memberikan atau menyediakan permainan yang menantang.
4. Melibatkan dalam tugas/kegiatan kelompok.
5. Memberi tugas dan tanggung jawab.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka yang teramat penting dalam mengatasi anak hiperaktif adalah memberikan bimbingan agar rasa ingin tahunya yang tinggi serta kelebihan tenaga yang terdapat pada diri anak, dapat terarah pada kegiatan-kegiatan yang positif, kreatif, dan produktif.
B. Saran
Anak hiperaktif memiliki banyak tenaga dan keinginantahuan sehingga ia tidak akan tinggal diam dan berlama-lama di satu tempat. Bagi guru TK yang mendapatkan anak didik yang hiperaktif, hal tersebut dapat diatasi dengan memberikan bimbingan dan arahan, serta melibatkan dalam kegiatan yang menarik dan menantang. Oleh karena itu, disarankan kepada para guru TK yang kebetulan memiliki anak didik yang hiperaktif agar senantiasa memberikan bimbingan dan arahan secara berkesinambungan. Janganlah pernah jenuh menghadapi anak hiperaktif. Berikanlah perhatian lebih kepada anak tersebut agar mereka dapat memanfaatkan tenaga dan keaktifannya ke arah yang lebih baik dan positif.
DAFTAR PUSTAKA
Akbar, Hawadi. 2001. Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta: Gramedia.
Irawati, Istadi. 2005. Istimewakan Setiap Anak. Jakarta: Pustaka Inti.
Istadi, Irawati.2006. Mendidik dengan Cinta. Bekasi: Pustaka Inti.
Musbikin, I. 2005. Mendidik Anak Nakal. Yogyakarta: Mitra Pustaka.
Nilandari, Ary (ed). 2002. Kiat-Kiat Meredakan Badai Kerewelan Balita Anda. Bandung: Kaifa.
Tuesday, February 14, 2017
Sejarah Bola Voli Mini, Pengertian,dan Teknik Bola Voli Mini
A.
Sejarah ditemukannya
Bola Voli
Pada
awal penemuannya, olahraga permainan bola voli ini diberi nama Mintonette.
Olahraga Mintonette ini pertama kali ditemukan oleh seorang Instruktur
pendidikan jasmani (Director of Phsycal Education) yang bernama William G.
Morgan di YMCA pada tanggal 9 Februari 1895, di Holyoke, Massachusetts (Amerika
Serikat). William G. Morgan dilahirkan di Lockport, New York pada tahun 1870,
dan meninggal pada tahun 1942. YMCA (Young Men’s Christian Association)
merupakan sebuah organisasi yang didedikasikan untuk mengajarkan ajaran-ajaran
pokok umat Kristen kepada para pemuda, seperti yang telah diajarkan oleh Yesus.
Organisasi ini didirikan pada tanggal 6 Juni 1884 di London, Inggris oleh
George William. Setelah bertemu dengan James Naismith (seorang pencipta
olahraga bola basket yang lahir pada tanggal 6 November 1861, dan meninggal
pada tanggal 28 November 1939), Morgan menciptakan sebuah olahraga baru yang
bernama Mintonette. Sama halnya dengan James Naismith, William G. Morgan juga
mendedikasikan hidupnya sebagai seorang instruktur pendidikan jasmani. William G.
Morgan yang juga merupakan lulusan Springfield College of YMCA , menciptakan
permainan Mintonette ini empat tahun setelah diciptakannya olahraga permainan
basketball oleh James Naismith. Permainan Mintonette diciptakan dengan
mengadopsi empat macam karakter olahraga permainan menjadi satu, yaitu bola
basket, baseball, tenis, dan yang terakhir adalah bola tangan (handball).
Pada awalnya, permainan ini diciptakan khusus bagi anggota YMCA yang sudah
tidak berusia muda lagi, sehingga permainan ini-pun dibuat tidak seaktif
permainan bola basket.
Perubahan
nama Mintonette menjadi volleyball (bola voli) terjadi pada pada tahun 1896,
pada demonstrasi pertandingan pertamanya di International YMCA Training School.
Pada awal tahun 1896 tersebut, Dr. Luther Halsey Gulick (Director of the
Professional Physical Education Training School sekaligus sebagai Executive
Director of Department of Physical Education of the International Committee of
YMCA) mengundang dan meminta Morgan untuk mendemonstrasikan permainan baru yang
telah ia ciptakan di stadion kampus yang baru. Pada sebuah konferensi yang
bertempat di kampus YMCA, Springfield tersebut juga dihadiri oleh seluruh
instruktur pendidikan jasmani. Dalam kesempatan tersebut, Morgan membawa dua
tim yang pada masing-masing tim beranggotakan lima orang. Dalam kesempatan itu,
Morgan juga menjelaskan bahwa permainan tersebut adalah permainan yang dapat
dimainkan di dalam maupun di luar ruangan dengan sangat leluasa. Dan menurut
penjelasannya pada saat itu, permainan ini dapat juga dimainkan oleh banyak
pemain. Tidak ada batasan jumlah pemain yang menjadi standar dalam permainan
tersebut. Sedangkan sasaran dari permainan ini adalah mempertahankan bola agar
tetap bergerak melewati net yang tinggi, dari satu wilayah ke wilayah lain
(wilayah lawan).
B. Pengertian Bola Voli
Mini
Bola
voli sendiri merupakan suatu olahraga permainan beregu yang dimainkan oleh dua
regu yang dipisahkan dengan net. Permainan di atas lapangan bebentuk empat
persegi panjang, di tengah-tengah lapangan dipisahkan dengan dibentangkan net.
Permainan ini dapat dimainkan di dalam ruangan atau di lapangan terbuka. Tujuan
permainan bola voli adalah agar setiap regu dapat melewatkan bola melalui atas
net sampai bola yang dilewatkan tidak menyentuh lantai di dalam daerah atau
lapangan sendiri. Dalam permainan tiap regu berusaha untuk memasukkan bola ke
daerah lawan melewati atas net dan berusaha memenangkan permainan dengan cara
mematikan bola di daerah lawan dengan menggunakan teknik-teknik bermain bola
voli yang benar.
Untuk mendapatkan kemenangan, setiap pemain bola voli harus menguasai teknik dasar memainkan bola karena penguasaan teknik dasar menentukan menang atau kalahnya suatu pertandingan. Sedangkan Bola voli mini adalah modifikasi dari permainan bola voli standar yang mengembangkan peraturan-peraturan agar menarik dan lebih mudah dipahami serta ditujukan untuk siswa sekolah dasar. bola voli mini dikhususkan untuk anak-anak usia 9 sampai 13 tahun. Permainan Bola voli mini di desain untuk 4 orang pemain untuk setiap tim. Artinya, four versus four, yang di mainkan pada lapangan dengan ukuran, panjang 12 meter dan lebar lapangan 5,5 meter.
Untuk mendapatkan kemenangan, setiap pemain bola voli harus menguasai teknik dasar memainkan bola karena penguasaan teknik dasar menentukan menang atau kalahnya suatu pertandingan. Sedangkan Bola voli mini adalah modifikasi dari permainan bola voli standar yang mengembangkan peraturan-peraturan agar menarik dan lebih mudah dipahami serta ditujukan untuk siswa sekolah dasar. bola voli mini dikhususkan untuk anak-anak usia 9 sampai 13 tahun. Permainan Bola voli mini di desain untuk 4 orang pemain untuk setiap tim. Artinya, four versus four, yang di mainkan pada lapangan dengan ukuran, panjang 12 meter dan lebar lapangan 5,5 meter.
C. Teknik-teknik yang terdapat
dalam Bola Voli Mini
1. Teknik dasar latihan bola
voli
Permainan voli mempunyai teknik-teknik tersendiri.
Teknik dasar permainan bola voli antara lain adalah teknik pasing (passing)
bawah, pasing atas, servis (service), smash, dan membendung bola (blocking).
Teknik pasing dan servis dalam bola voli adalah sebagai berikut
a. Teknik pasing bawah
Teknik pasing ada dua, yaitu pasing atas dan pasing
bawah. Teknik pasing bawah biasanya banyak digunakan saat bermain voli. Gerakan
teknik pasing bawah sebagai berikut :
![]() |
| Add caption |
1)
Berdiri tegak, kaki agak dibuka dan kedua lutut agak
ditekuk, berat badan pada kedua kaki.
2)
Badan condong ke depan dan kedua tangan lurus ke
depan.
3)
Perkenaan bola pada pergelangan tangan.
4)
Pandangan ke depan. Latihannya dapat dilakukan secara
berpasangan.
5)
Anak satu mengoper bola sebanyak 30 kali pada
anak yang lain. Kemudian dihitung berapa kali pasing yang baik. Lemaskan gerakan lengan saat melakukan pasing bawah, sehingga bola akan mudah memantul saat mengenai kedua lengan.
anak yang lain. Kemudian dihitung berapa kali pasing yang baik. Lemaskan gerakan lengan saat melakukan pasing bawah, sehingga bola akan mudah memantul saat mengenai kedua lengan.
b. Teknik pasing atas
Pasing atas adalah menyajikan bola atau membagi-bagikan
bola (mengoper bola) dengan menggunakan jari-jari tangan. Gerakan teknik pasing
atas sebagai berikut :
![]() |
| Add caption |
1)
Berdiri tegak, kaki agak dibuka.
2)
Salah satu kaki agak ke depan.
3)
Kedua lutut agak ditekuk, badan agak ke depan.
4)
Kedua tangan berada di atas kepala.
5)
Siku ditekuk, jari-jari tangan direnggangkan membentuk
lengkungan setengah bola. Latihannya dapat dilakukan dengan cara mengoper bola
ke tembok pada jarak 3 meter sebanyak 30 kali. Kemudian dihitung berapa kali
pasing yang baik. Pada latihan pasing atas, aturlah kekuatan tanganmu saat
mengoper bola pada tembok. Jika operanmu terlalu kuat, maka bola akan
memantul jauh, sehingga sulit kamu jangkau.
c. Teknik servis
Servis adalah pukulan permulaan yang dilakukan oleh
pihak yang melakukan servis. Gerakan teknik servis bawah sebagai berikut:
![]() |
| Add caption |
1) Salah satu
kaki di depan, badan agak ke depan.
2) Tangan
kiri memegang bola, tangan kanan diayunkan ke belakang dan memukul bola.
3) Pandangan
ditujukan ke atas jaring ke lapangan lawan. Latihannya dapat dilakukan dengan
cara melakukan servis ke arah lapangan sebanyak 10 kali. Kemudian dihitung bola
yang masuk dan keluar.
d. Smash (spike)
Dengan
membentuk serangan pukulan yang keras waktu bola berada di atas jaring, untuk
dimasukkan ke daerah lawan. Untuk melakukan dengan baik perlu memperhatikan
faktor-faktor berikut: awalan, tolakan, pukulan, dan pendaratan. Teknik smash
Menurut Muhajir Teknik dalam permainan bola voli dapat diartikan sebagai cara
memainkan bola dengan efisien dan efektif sesuai dengan peraturan permainan
yang berlaku untuk mencapai suatu hasil yang optimal (2006,23). Menurut Iwan
Kristianto mengemukakan bahwa , Smash adalah pukulan keras yang biasanya
mematikan karena bola sulit diterima atau dikembalikan . “ (2003 : 143 ) .
Spike adalah merupakan bentuk serangan yang paling banyak digunakan untuk
menyerang dalam upaya memperoleh nilai suatu tim dalam permainan voli. Dari
beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Teknik Smash atau spike
adalah cara memainkan bola dengan efisien dan efektif sesuai dengan peraturan
permainan untuk mencapai pukulan keras yang biasanya mematikan ke daerah lawan.
Tes smash Menurut Sandika mengemukakan bahwa tes smash adalah tolok ukur untuk
mengukur kemampuan smash.
e. Membendung (blocking)
Dengan
daya upaya di dekat jaring untuk mencoba menahan/menghalangi bola yang datang
dari daerah lawan. Sikap memblok yang benar adalah:
1)
Jongkok, bersiap untuk melompat.
2)
Lompat dengan kedua tangan rapat dan lurus ke atas
Saat mendarat hendaknya langsung menyingkir dan
memberi kesempatan pada kawan satu regu untuk bergantian melakukan block.
Block
ada dua macam. 1. block tunggal 2. block ganda Block tunggal adalah membendung
bola yang dilakukan oleh satu orang pemain Block ganda adalah membendung bola
yang dilakukan oleh dua orang pemain atau lebih. Hal yang harus diperhatikan
dalam melakukan block ganda antara lain adalah memadukan langkah kaki dan
kerjasama antar blocker dalam menentukan waktu lompatan dan arah pergerakan
bola.
D. Peraturan Permainan dalam Bola Voli mini
Memainkan
bola voli mini hanya boleh dilakukan dengan teknik yang telah dipelajari.
Setelah dapat melakukan teknik-teknik dasar bola voli mini, selanjutnya mainkan
dalam suatu permainan dengan mengikuti peraturan yang sederhana. Cara
melakukannya adalah sebagai berikut:
a. Bentuklah 2 regu, setiap regu terditi atas 4 siswa.
b. Atur posisi anggota regu. Servis dilakukan oleh pemain
belakang sebelah kanan. Pergantian servis, perputaran pemain, dan cara
menghitung nilai disesuaikan peraturan resmi permainan bola voli.
c. Lakukan pemanasan otot lengan sebelum melakukan
servis. Perhatikan ayunan bola agar perkenaan tangan pada bola tidak meleset.
d. Mengoperkan bola kepada lawan atau teman dilakukan
dengan pasing atas dan pasing bawah. Bola yang diterima tidak boleh
dikembalikan langsung ke lawan. Bola tersebut harus dioperkan dulu pada teman
di lapangan sendiri. Paling sedikit 1 kali dan paling banyak 2 kali. Jika ada
bola dating dari pukulan lawan, jangan saling berebut. Beri aba-aba pada teman
jika kamu akan mengambil dan mengoper bola tersebut.
e. Permainan dapat dilakukan dengan menggunakan system
rally point dengan jumlah angka tidak mutlak 25 (satu game), tetapi disesuaikan
dengan alokasi waktu yang tersedia
E. Alat dan Perlengkapan
yang digunakan dalam Bola Voli Mini
Lapangan
untuk permainan bola voli mini berbentuk persegi panjang, sama dengan lapangan
bola voli biasa atau bola voli pantai. Ukuran lapangan bola voli mini
sebagai berikut.
a.
Panjang : 12 meter
b.
Lebar : 5,5 meter
c.
Tinggi net putra: 2,10 meter
d.
Tinggi net putri : 2 meter.
e.
Alat : bola berat 230 - 250 gr
f.
Net : panjang 7 meter dan lebar 90 cm
g.
Untuk ukuran bola yang digunakan adalah nomor 4
Kesimpulan
Bola
voli mini
adalah modifikasi dari permainan bola
voli standar yang mengembangkan peraturan-peraturan agar menarik dan lebih
mudah dipahami serta ditujukan untuk siswa sekolah dasar. bola voli mini dikhususkan untuk anak-anak usia 9
sampai 13 tahun. Permainan Bola voli mini di desain untuk 4 orang pemain untuk setiap tim. Artinya, four versus
four, yang di mainkan pada lapangan dengan ukuran, panjang 12 meter dan
lebar lapangan 5,5 meter.
Memainkan
bola voli mini hanya boleh dilakukan dengan teknik yang telah dipelajari.
Setelah dapat melakukan teknik-teknik dasar bola voli mini, selanjutnya dapat
dimainkan dalam suatu permainan dengan mengikuti peraturan yang sederhana.
DAFTAR PUSTAKA
______. 2004. “Bola
Voli Mini” (online), (Bola-voli-mini.htm, diakses
tanggal 30 Maret 2014)
Mifid, Najib Sulhan.
2010. Mari Belajar Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan untuk
SD-MI Kelas IV. Jakarta : Pusat Perbukuan Kementrian Pendidikan Nasional.
Poetra, addie. 2011.
“Bola Voli” (online), (BUKU CATATAN ADI Mari Be.htm, diakses tanggal 3 April
2014)
Yuda, Pratama. 2006.
“Pendjas-Orkes Bola Voli Mini” (online), (bola/voli/mini/html, diakses tanggal
3 April 2014)
Subscribe to:
Posts (Atom)



