Cara Menghadapi Anak Hiperaktif
Pada sekitar abad kedua puluhan,
sejumlah orang tertarik mempelajari rahasia di balik tumbuh kembangnya
manusia. Berbagai upaya dilakukan termasuk mengembangkan metode
pengumpulan data dalam rangka mendapatkan gambaran yang utuh tentang
perkembangan manusia. Salah satu dari perkembangan manusia tersebut
adalah perkembangan anak dari sejak lahir hingga dewasa.
Pada abad
petengahan, muncul anggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk
mini sehingga perlakuan yang diberikan oleh lingkungan sama dengan
perlakuan terhadap orang dewasa. Pada tahun-tahun setelah itu,
berkembang ide bahwa masa anak merupakan periode perkembangan yang
khusus karena memiliki kebutuhan psikologis, pendidikan, serta kondisi
fisik yang khas dan berbeda dengan orang dewasa.
Beberapa pendapat
mengenai masa anak seperti John Locke (1980: 3) yang menyatakan bahwa
ketika bayi dilahirkan, kondisinya tabularasa atau eperti kertas kosong
yang bersih. Pikiran anak merupakan hasil dari pengalaman dan proses
belajar. Pengalaman dari proses belajar yang diperoleh melalui indera
membentuk manusia menjadi individu yang unik. Pendapat lain tentang masa
anak dikemukakan oleh Rousseau (2008: 4) yang menyatakan bahwa bayi
sudah dibekali oleh rasa keadilan dan moralitas, serta perasaan dan
pikiran sejak lahir. Artinya ketika bayi dilahirkan, dia sudah memiliki
kapasitas dan modal yang akan terus berkembang secara alami tahap demi
tahap. Tugas orang tua adalah memberikan kesempatan agar bakat atau
bawaan tersebut dapat berkembang dan memandu pertumbuhan anak.
Anak
adalah anugerah Yang Maha Kuasa Anak yang dititipkan kepada setiap orang
tua atau ayah dan ibu. Anak yang baru lahir merupakan makhluk yang suci
dan belum tahu apa-apa. Jika kelak anak itu tumbuh menjadi manusia yang
berperilaku baik atau jahat, maka sepenuhnya bukanlah kesalahan dari
anak itu tetapi karena adanya beberapa faktor penyebab seperti keluarga,
lingkungan, dan sifat pembawaan. Orang tua sebagai orang yang paling
dekat dengan si anak merupakan orang yang paling banyak memberi pengaruh
kepada anaknya. Melalui orang tualah (ibu) anak mendapat pendidikan
pertama. Ibu yang berhasil mendidik anaknya dengan baik tentu akan
menjadikan anaknya tumbuh menjadi anak yang baik pula. Sebaliknya, orang
tua atau ibu yang gagal mendidik anaknya akan menjadikan anak tumbuh
menjadi orang yang terkadang meresahkan masyarakat.
Pada usia balita,
anak cenderung sudah memperlihatkan hasil didikan orang tuanya. Pada
sebuah Taman Kanak-Kanak misalnya, sering terlihat anak yang manis,
sabar, cerdas dan pintar, serta suka berteman dan menolong. Namun,
terkadang terdapat juga anak yang suka bergerak, tidak bisa tinggal diam
alias hiperaktif. Anak yang demikian tentu menjadi sebuah masalah bagi
seorang guru seperti Taman Kanak-Kanak. Bagaimana mengatasi anak
hiperaktif seperti itu? Untuk menjawab pertanyaan atau permasalahan
tersebut maka dalam makalah ini diangkat judul ”Cara Mengatasi Anak
Hiperaktif”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang dikemukakan di atas tentang anak yang hiperaktif, dirumuskan masalah penulisan ini sebagai berikut:
1. Apa yang menyebabkan anak menjadi hiperaktif?
2. Bagaimanakah mengatasi anak yang hiperaktif?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan uraian rumusan masalah di atas dapat dikemukakan tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui penyebab anak menjadi hiperaktif?
2. Untuk mengetahui cara mengatasi anak hiperaktif?
D. Manfat Penulisan
Hasil
penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada
kemajuan dunia pendidikan khususnya dalam pembinaan anak prasekolah yang
mengalami masalah seperti anak yang hiperaktif. Adapun manfaat yang
dimaksud dapat dirinci sebagai berikut:
1. Memberikan gambaran tentang penyebab seorang anak menjadi hiperaktif.
2. Sebagai masukan kepada para tenaga pendidik atau para guru tentang cara menangani anak yang hiperaktif.
3. Memperluas wawasan keilmuan tentang perkembangan anak dan cara membimbing anak menjadi manusia yang cerdas dan mandiri.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Anak yang Hiperaktif
Hiperaktif
adalah sifat yang amat aktif (KBBI, 1995: 353). Sifat aktif pada diri
anak berarti setiap tindakan atau perbuatan yang dilakukan seorang anak
yang didorong oleh adanya minat atau keinginan dari dalam diri anak
untuk berbuat atau bertindak sesuai keinginannya.
Sesuai dengan
perkembangannya, anak memiliki banyak idealisme, angan-angan, atau
keinginan yang hendak diwujudkannya. Namun, sesungguhnya anak-anak itu
belum memiliki banyak kemampuan untuk melakukannya. Keterbatasan
pemikiran pada anak-anak salah satu penyebab kurangnya kemampuan dalam
mewujudkan keinginannya itu. Akibat dari kurangnya kemampuan berpikir,
anak-anak menjadi bergerak atau bertindak sesuai nalurinya. Anak-anak
kadang menjadi liar karena adanya dorongan nalurinya untuk melihat,
meraba, dan merasakan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya.
Pada
usia 2 – 5 tahun sifat hiperaktif anak terlihat dari perilaku anak yang
tidak bisa tinggal diam. Mereka akan terus bergerak dan bergerak
melakukan aktivitas yang tidak kunjung selesai. Anak yang hiperaktif
akan membuat orang tua atau pengasuhnya menjadi capek karena harus
mengikuti kemana anak pergi dan terus mengawasi aktivitas anak.
Pengawasan harus melekat pada anak hiperaktif mengingat mereka memiliki
pemikiran yang masih terbatas. Dengan demikian, tentu mereka tidak bisa
membedakan mana yang berbahaya dan mana yang tidak berbahaya.Mereka baru
mengetahui sesuatu itu berbahaya atau tidak setelah mencobanya.
Anak
yang hiperaktif harus mendapat pengawasan ekstraketat. Anak yang
hiperaktif rawan mengalami hal-hal yang berbahaya jika tidak selalu
diawasi atau dipantau setiap kegiatan yang dilakukannya. Semua benda
yang ditemui biaanya akan diraba, diangkat, atau digoyang-goyangkan
untuk mengetahui jenis benda tersebut. Anak yang hiperaktif memiliki
sifat keinginantahuan yang tinggi. Oleh karena itu, anak yang hiperaktif
sudah harus diberi pembinaan sejak masih balita atau masa prasekolah.
Pada
masa usia prasekolah, anak hiperaktif biasanya tambah mulai
menjadi-jadi. Hal ini karena anak sudah mulai lepas dari lingkungan
rumah, pelukan dan pengawasan ibu, atau pengawasan pengasuh mereka.
Lingkungan pergaulan menjadi lebih luas dan mulai mendapatkan banyak
teman. Selanjutnya, tanggung jawab pengawasan pada anak, sudah mulai
berpindah kepada guru di sekolah. Oleh karena itu, seorang guru yang
mendapatkan anak hiperaktif harus memiliki teknik pengawasan dan
pembinaan yang tepat. Ia harus mengetahui cara mengatasi anak yang
hiperaktif agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung dengan baik dan
lancar.
Anak yang hiperaktif jika tidak dibina dengan baik akan
menjadi anak yang menghambat pelaksanaan pembelajaran di kelas. Sifat
tidak bisa tinggal diam pada anak tersebut akan menjadikan teman-teman
lainnya ikut terpancing dan melakukan aktivtas yang sama dengan anak
yang hiperaktif tersebut. Hal ini tentu akan menjadikan kelas tambah
ramai dan tidak kondusif untuk kegiatan pembelajaran.
B. Mengapa Anak Hiperaktif
Manusia
diciptakan secara unik, berbeda satu sama lain, dan tidak satu pun yang
memiliki ciri-ciri persis sama meskipun mereka itu kembar identik.
Setiap individu pasti memiliki karakteristik yang berbeda dengan
individu lainnya. Perbedaan individual ini merupakan kodrat manusia yang
bersifat alami. Berbagai aspek dalam diri individu berkembang melalui
cara yang bervariasi sehingga menghailkan perubahan karakteristik
individual yang bervariasi pula.
Perbedaan perkembangan berbagai
karakteristik individual tampak dalam aspek-aspek yang terdapat pada
setiap diri individu. Perbedaan-perbedaan tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Perbedaan aspek fisik
Perbedaan aspek fisik tampak pada gejala-gejala sebagai berikut:
a. Ada anak yang lekas lelah dalam pekerjaan fisik, tetapi ada juga yang tahan lama.
b. Ada yang dapat bergerak lincah, tetapi ada juga yang lamban.
c. Ada anak yang tidak bisa tinggal diam, ada juga anak yang malas bergerak.
2. Perbedaan aspek emosi
Perbedaan perkembangan karakteistik secara individual pada aspek emosi tampak dengan gejala-gejala sebagai berikut:
a. Ada anak yang mudah sekali marah, tetapi ada pula yang penyabar.
b. Ada anak yang perasa, tetapi ada pula yang tidak mudah peduli.
c. Ada anak yang pemalu atau penakut, tetapi ada pula yang pemberani.
d. Ada anak yang tidak suka bergerak aktif, tetapi ada pula yang hiperaktif.
3. Perbedaan aspek nilai, moral, dan sikap
Perbedaan
perkembangan karakteristik secara individual pada aspek nilai, moral,
dan sikap tampak dengan gejala-gejala sebagai berikut:
a. Ada anak yang bersikap taat pada aturan, tetapi ada pula yang begitu mudah dan seenaknya melanggar aturan.
b. Ada anak yang perilakunya bermoral tinggi, tetapi ada yang perilakunya tidak bermoral dan tidak senonoh.
c. Ada anak yang penuh sopan santun, tetapi ada pula yang perilaku maupun tutur bahasanya seenaknya sendiri.
Berdasarkan
uraian di atas, dapat dikatakan bahwa setiap aspek menunjukkan
karakteristik individual yang berbeda sehingga individu sebagai kesatuan
jasmani dan rohani mewujudkan dirinya secara utuh dalam keunikannya.
Keunikan dan perbedaan individual itu disebabkan oleh perbedaan faktor
pembawaan dan lingkungan yang dimiliki oleh masing-masing individu atau
anak. Perbedaan individu tersebut membawa implikasi imperatif terhadap
setiap layanan pendidikan untuk memperhatikan karakteristik anak didik
yang unik dan bervariasi. Menyamaratakan layanan pendidikan atau
bimbingan terhadap individu atau anak yang memiliki karakteristik
berbeda satu sama lain berarti mengingkari hakikat dan kodrat
kemanusiaannya sehingga akan memperoleh hasil yang kurang memuaskan.
Misalnya anak yang mengalami sifat yang suka bergerak, tidak mau tinggal
diam, atau disebut anak yang hiperaktif. Anak yang hiperaktif tentu
harus mendapatkan layanan yang berbeda dengan anak yang pendiam atau
tidak suka banyak gerak.
Tidak semua anak mengalami atau memiliki
sifat hiperaktif. Misalnya pada sebuah Taman Kanak-Kanak, dari beberapa
anak pada Taman Kanak-Kanak tersebut, kemungkinan hanya ada satu dua
orang yang mempunyai sifat hiperaktif. Hal ini berarti bahwa sifat
hiperaktif itu bukanlah merupakan sifat yang bersifat umum bagi setiap
anak.
Anak adalah makhluk suci dan bersih ketika ia baru lahir. Anak
dapat diibaratkan kertas kosong yang putih bersih. Kertas yang putih
bersih tersebut akan menjadi beragam warnanya setelah ditulisi oleh
berbagai pihak mulai dari orang tua, kakak, keluarga, guru, teman, dan
orang-orang di lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, anak balita yang
hiperaktif tentu memerlukan penanganan yang lebih serius agar menjadi
anak yang baik dan berguna di kemudian hari.
Setiap anak memiliki
naluri untuk mencoba sesuatu yang ada di sekelilingnya. Namun, naluri
mencoba tidak sama pada setiap anak. Anak yang hiperaktif memiliki
naluri mencoba yang begitu tinggi sehingga ia selalu bergerak dan
bergerak untuk sekedar melihat, menyentuh, bahkan merasai setiap benda
yang ada di sekitarnya. Pada perkembangannya, anak yang hiperaktif
cenderung memilki kreativitas yang tinggi. Ia akan mulai melihat dan
mencoba merasai segala benda yang dilihatnya sehingga timbul
kreativitasnya untuk mengubah atau merenovasi benda yang didapatinya.
Hal ini terlihat misalnya pada anak yang memilki mainan mobil-mobilan,
meskipun mainan tersebut baru dibelikan oleh ayah atau ibunya, namun
selalu diotak-atik bahkan dibongkar untuk melihat bagaimana membuatnya
atau apa isinya. Kreativitas seperti ini sering terjadi pada anak yang
tergolong hiperaktif.
Menurut Piers (dalam Adams: 1976) bahwa karakteristik kreativitas adalah sebagai berikut:
1. Memiliki dorongan (drive) yang tinggi.
2. Memiliki keterlibatan yang tinggi.
3. Memiliki rasa ingin tahu yang besar.
4. Memiliki ketekunan yang tinggi.
5. Cenderung tidak puas terhadap kemapanan.
6. Memiliki kemandirian yang tinggi.
7. Bebas dalam mengambil keputusan.
8. Penuh percaya diri.
9. Cenderung tertarik kepada hal-hal yang kompleks.
10. Bersifat sensitif.
Dengan
memperhatikan karakterisitk kreativitas di atas, dapat dipahami
bagaimana pentingnya mengatasi dan mengarahkan anak yang hiperaktif agar
dapat tumbuh menjadi anak yang kreatif, cerdas, terampil, dan
bertangghung jawab. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional
seperti yang tercantum dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional.
C. Mengatasi Anak Hiperaktif
Pada
dasarnya, anak yang hiperaktif memiliki rasa ingin tahu yang tinggi
(high curiosity). Karena didorong oleh rasa ingin tahu yang tinggi anak
menjadi cenderung ingin bergerak dan bertindak untuk mencoba segala
sesuatu yang dilihatnya. Selain itu, anak yang hiperaktif juga memiliki
tenaga ekstra yang super kuat sehingga menjadikannya selalu ingin
bergerak dan beraktivitas.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka
yang teramat penting dalam mengatasi anak hiperaktif adalah memberikan
bimbingan agar rasa ingin tahunya yang tinggi serta kelebihan tenaga
yang terdapat pada diri anak, dapat terarah pada kegiatan-kegiatan yang
positif, kreatif, dan produktif.
Untuk mengatasi anak hiperaktif, ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Bimbingan terarah
Anak
hipraktif memiliki sifat yang tidak bisa tinggal diam. Ia selalu
bergerak dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Melihat
aktivitas anak seperti itu, maka perlu diberikan bimbingan yang terarah.
Maksud dari bimbingan terarah yaitu memberikan bimbingan kepada anak
secara terfokus dan mengarah kepada satu kegiatan. Misalnya anak selalu
memanjat meja atau pagar pembatas kelas, maka ibu guru dapat mengarahkan
anak untuk memanjat pada tiang-tiang besi yang sudah dirangkai menjadi
bundaran yang khusus disediakan bagi anak yang senang dengan aktivitas
menantang. Kehadiran guru di dekat anak akan menjadikan ia dapat
menggunakan tenaganya dengan baik dan terhindar dari risiko yang
membahayakan.
2. Memberikan kesibukan
Memberikan kesibukan
merupakan salah satu cara yang baik dan efektif dalam mengatasi anak
hiperaktif. Kesibukan yang diberikan dapat bermacam-macam sesuai dengan
karakteristik anak. Jika si anak senangnya mencoret-coret tembok atau
dinding sekolah, maka kepada si anak hendaknya diberi kesibukan untuk
menggambar, melukis atau mewarnai gambar bentuk yang disediakan.
Dalam
memberi kesibukan seperti itu, guru harus sering-sering berada di dekat
anak atau mengawasi pekerjaan anak. Melalui perhatian guru kepada si
anak, maka anak akan merasa memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan
tugas yang diberikan. Dengan adanya kesibukan pada diri anak untuk
menyelesaikan tugasnya, maka naluri keaktifan si anak akan sedikit
berkurang karena tertutupi oleh perasaan ingin menyelesaikan tugasnya
secepatnya.
3. Menyediakan permainan yang menantang
Anak-anak yang
hiperaktif cenderung senang pada sesuatu yang menantang. Oleh karena
itu, anak yang hiperaktif sebaiknya disediakan permainan yang menantang.
Permaianan yang menantang misalnya lomba lari kelereng, lomba
memasukkan bola ke dalam keranjang, lomba mengambil bendera di puncak
tangga, dan permainan lainnya yang membutuhkan kekuatan fisik dan
keterampilan tinggi.
Permainan yang menantang akan menjadikan tenaga
anak tersalurkan sehingga tenaga yang berlebih pada diri anak tersebut
akan tersalurkan ke hal-hal yang positif. Hal ini akan menjadikan anak
hiperaktif memiliki fokus kegiatan yang terarah dan terkoordinir.
4. Melibatkan dalam kegiatan kelompok
Kegiatan
kelompok merupakan kegatan kerja sama antaranak dalam satu kelas.
Dengan melibatkan anak hiperaktif dalam kegiatan kelompok, maka ia akan
memiliki kebiasaan atau tanggung jawab untuk bekrja sama dengan
temannya. Dalam kegiatan kelompok itu, hendaknya diberikan tugas yang
menarik dan menantang bagi anak sehingga mereka akan memiliki semangat
untuk menyelesaikannya. Selain itu, kepada setiap pemenang atau kelompok
terbaik diberikan reward atau penghargaan agar anak dapat
bersungguh-sungguh bekerja dalam kelompoknya masing-masing.
Pemberian
tugas kelompok sebaiknya dilakukan dengan melihat tingkat kesukaran
pekerjaan yang harus diselesaikan oleh anak. Di samping itu, setiap
kelompok hendaknya memiliki anggota yang heterogen baik dari jenis
kelamin, sifat, kecerdasan, maupun agama. Anak yang hiperaktif sebaiknya
dilibatkan sebagai pemimpin kelompok supaya dapat lebih aktif
mengkoordinir anggota kelompoknya.
5. Memberi tugas dan tanggung jawab
Anak
yang hiperaktif suka beraktivitas. Oleh karena itu, sebaiknya anak
hiperaktif diberi kesempatan untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab
di kelasnya. Pemberian tugas seperti ketua kelas, pemandu pada kegiatan
senam, pemimpin barisan, dan tugas-tugas lainnya akan menyalurkan
tenaga dan pikiran anak sehingga ia memiliki fokus pemikiran yang akan
dilaksanakan. Selain itu, anak juga dilatih memiliki rasa tanggung jawab
untuk menyelesaikan tugasnya. Pemberian tugas dan tanggung jawab akan
menjadikan anak terfokus pada satu kegiatan yang positif.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan
uraian terdahulu dapat disimpulkan bahwa anak hiperaktif adalah anak
yang memiliki sifat untuk selalu inging beraktivitas. Anak tidak bisa
tinggal diam dan selalu aktif bergerak.
Anak menjadi hiperaktif
disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor bawaan dan faktor lingkungan.
Pada perkembangannya, anak yang hiperaktif cenderung memilki kreativitas
yang tinggi. Ia akan mulai melihat dan mencoba merasai segala benda
yang dilihatnya sehingga timbul kreativitasnya untuk mengubah atau
merenovasi benda yang didapatinya. Untuk mengatasi anak hiperaktif,
dapat dilakukan hal-hal berikut ini:
1. Memberikan bimbingan secara terarah.
2. Memberikan kesibukan.
3. Memberikan atau menyediakan permainan yang menantang.
4. Melibatkan dalam tugas/kegiatan kelompok.
5. Memberi tugas dan tanggung jawab.
Berdasarkan
hal tersebut di atas, maka yang teramat penting dalam mengatasi anak
hiperaktif adalah memberikan bimbingan agar rasa ingin tahunya yang
tinggi serta kelebihan tenaga yang terdapat pada diri anak, dapat
terarah pada kegiatan-kegiatan yang positif, kreatif, dan produktif.
B. Saran
Anak
hiperaktif memiliki banyak tenaga dan keinginantahuan sehingga ia tidak
akan tinggal diam dan berlama-lama di satu tempat. Bagi guru TK yang
mendapatkan anak didik yang hiperaktif, hal tersebut dapat diatasi
dengan memberikan bimbingan dan arahan, serta melibatkan dalam kegiatan
yang menarik dan menantang. Oleh karena itu, disarankan kepada para guru
TK yang kebetulan memiliki anak didik yang hiperaktif agar senantiasa
memberikan bimbingan dan arahan secara berkesinambungan. Janganlah
pernah jenuh menghadapi anak hiperaktif. Berikanlah perhatian lebih
kepada anak tersebut agar mereka dapat memanfaatkan tenaga dan
keaktifannya ke arah yang lebih baik dan positif.
DAFTAR PUSTAKA
Akbar, Hawadi. 2001. Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta: Gramedia.
Irawati, Istadi. 2005. Istimewakan Setiap Anak. Jakarta: Pustaka Inti.
Istadi, Irawati.2006. Mendidik dengan Cinta. Bekasi: Pustaka Inti.
Musbikin, I. 2005. Mendidik Anak Nakal. Yogyakarta: Mitra Pustaka.
Nilandari, Ary (ed). 2002. Kiat-Kiat Meredakan Badai Kerewelan Balita Anda. Bandung: Kaifa.
No comments:
Post a Comment